“Statisme” Sosial Bernama Kasta
Oleh: Jaimine Vaishnav. Teks aslinya berjudul “Social Statism Called Caste”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Taratsa
Nilai kehidupan manusia pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan akan otonomi serta kehidupan yang bermartabat, penuh harga diri, dan memiliki kebebasan. Pilar-pilar tersebut sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan sosial dan pertumbuhan bersama. Ketika kehidupan manusia berkembang dalam suatu masyarakat, penting bagi kita untuk membangun solidaritas dan persaudaraan dengan berbagai faktor yang memungkinkan terjadinya emansipasi. Dalam konteks India, ada satu kekuatan yang terus membentuk cara masyarakat memperlakukan individu, baik secara terang-terangan maupun terselubung: kasta (jati/varna).
Konteks
Dalam teks-teks seperti Manusmriti maupun Weda dalam tradisi Hindu, jati ditentukan berdasarkan kelahiran. Sistem ini hampir menyerupai semacam “kontrak sosial” yang diberlakukan kepada kelompok-kelompok sosial tanpa persetujuan mereka. Ia memperoleh legitimasi keagamaan dengan tujuan mengendalikan dan mempertahankan apa yang disebut sebagai “fasisme sosial”, yang pada akhirnya melahirkan sistem varna secara sistematis dalam masyarakat. Varna merupakan pembagian pekerjaan berdasarkan kasta. Secara keseluruhan, proses sosialisasi semacam ini melahirkan ketimpangan yang tersusun secara hierarkis. Hubungan timbal balik antara jati dan varna menyisakan sangat sedikit ruang bagi percampuran antarkelompok maupun mobilisasi internal. Shankaracharya dari Puri, dengan nada merendahkan, menyindir ketidaktahuan kaum elite India dengan menegaskan bahwa “varna ditentukan berdasarkan kelahiran, sama seperti jati.” Ia melanjutkan, “banyak orang mengatakan bahwa mereka hanya percaya pada varna, bukan jati. Orang-orang ini bahkan tidak mengetahui bab pertama Bhagavad Gita, teks suci Hindu, ayat 1.42.”
Mereka yang berasal dari kasta rendah (Dalit/Bahujan) tidak memiliki ruang untuk menjalankan tugas-tugas “brahmanis”, karena agama Hindu juga menetapkan pembagian “tugas” berdasarkan kelahiran. Misalnya, menguliti bangkai sapi atau ternak dilakukan oleh komunitas Dalit, sementara seorang Dalit tidak diperbolehkan menjalankan profesi sebagai pendeta di kuil. Kastaisme sebagai bentuk “tirani sosial” bertanggung jawab atas eksploitasi sistematis terhadap kelompok kasta rendah beserta kebebasan mereka. Bahkan berbagai upaya untuk menghubungkan kembali pekerjaan-pekerjaan berbasis kasta tidak serta-merta menciptakan keberlanjutan sosial karena masih terjebak dalam politik yang bersifat “tokenistik”.
Kastaisme bekerja sebagai bentuk “statisme sosial”: sebuah doktrin yang menganggap penindasan sebagai kekuatan yang “sah”. Memang, aturan-aturan tersebut ditegakkan oleh masyarakat itu sendiri, bukan oleh negara dari atas, tetapi hasil akhirnya tidak kalah totaliter. Masyarakat India mengalami kastaisme dalam ruang mikro maupun meso. Ia bersifat keagamaan sekaligus kultural. Ingat sistem “pajak payudara”? Mulakkaram merupakan pajak yang diberlakukan oleh Kerajaan Travancore (sekarang negara bagian Kerala, India) terhadap perempuan kasta rendah dan Dalit yang tidak tersentuh apabila mereka ingin menutupi payudara mereka di ruang publik, hingga 1924. Para pemungut pajak – laki-laki Hindu dari kasta atas – mendatangi setiap rumah untuk menarik Breast Tax dari perempuan kasta rendah yang telah melewati masa pubertas. Besaran pajak ditentukan oleh pemungut pajak berdasarkan ukuran payudara mereka.
Anatomi Singkat
Kasta yang memiliki privilese – yang memperoleh banyak keuntungan dari kapitalisme berbasis kasta – cenderung membangun versi sistem kasta yang berbeda dan defensif. Sementara itu, mereka yang tidak memiliki privilese terus bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan berbasis kasta seperti membersihkan kotoran manusia secara manual (manual scavenging) dan mengurus krematorium. Seperti dikatakan sosiolog Satish Deshpande, “Dengan mengubah modal kasta mereka menjadi modal modern, kasta atas kini dapat mengklaim diri mereka tidak berkasta sekaligus menuduh kasta bawah sebagai pihak yang secara tidak sah mempertahankan kasta.”
Kasta sebagai bentuk otoritarianisme sosial juga bertanggung jawab atas kekerasan berbasis kasta dan kekerasan berbasis gender. Data NCRB terbaru untuk 2019 menunjukkan bahwa perempuan dari kasta rendah – kelompok Dalit dan Adivasi – mengalami lebih banyak kekerasan dan berbagai insiden yang merugikan. Ini menunjukkan dengan jelas adanya persinggungan antara pemerkosaan dan kasta. Dorongan di balik kekerasan terhadap kelompok Dalit atau Adivasi tersebut bersumber dari sikap keagamaan dan misogini yang mempertahankan hierarki sosial berupa ketimpangan berjenjang yang disebut kastaisme. Sebuah laporan American Civil Society Research pada 2019 menemukan bahwa 40% konten media sosial di platform populer seperti Facebook dan Twitter dipenuhi cercaan berbasis kasta, terutama yang ditujukan kepada individu dari kasta rendah. Ini menjadi contoh lain bagaimana kastaisme dengan begitu kuat memungkinkan fanatisme dan melahirkan budaya penindasan, ketundukan, kepatuhan, dan patriarki.
Di abad ke-21, gagasan mengenai reservation atau representasi justru dipandang sebagai sesuatu yang menindas dan eksploitatif oleh kasta yang memiliki privilese. Mereka yang selama sekitar 3.000 tahun mempertahankan hegemoni sosial berdasarkan kasta selalu merasa terusik ketika seorang Dalit/Bahujan memperoleh manfaat dari affirmative action. Baik dalam ranah politik maupun sektor pendidikan, proporsi pekerjaan yang diisi oleh kelompok kasta rendah masih lebih kecil daripada yang semestinya. Keseluruhan struktur ini masih bersifat brahmanis dan, yang semakin memperburuk keadaan, pemerintahan Modi ingin memperkecil ruang representasi “Dalit” melalui kebijakan kapitalis neoliberalnya.
Fakta Pahit
Hinduisme pada dasarnya bukanlah sebuah agama. Banyak orang Barat, karena ketidaktahuan yang disengaja, menganggap bahwa “Hinduisme adalah sebuah cara hidup”, dan mereka terpesona oleh pemasaran yang dilakukan para aktivis Yoga. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa Hinduisme tidak lebih dari agregasi berbagai kasta. Bahkan Yoga, sebagaimana dirumuskan oleh Patanjali pada masa Kekaisaran Shunga – dinasti yang dikenal sangat intoleran terhadap para biksu Buddha – menjadikan apa yang disebut sebagai latihan spiritual (Yoga) hanya dapat diakses oleh kasta yang memiliki privilese. Saat ini, Yoga memang menjadi pilihan pribadi, kecuali bahwa pemerintah India saat ini yang dipimpin Narendra Modi telah menjadikannya wajib di sekolah-sekolah negeri. Hal tersebut kemudian mendorong sejumlah sekolah swasta untuk ikut mengikuti tren tersebut.
Data sensus 2011 juga memberikan gambaran yang suram dan pahit. Kasus eksogami (perkawinan antarkasta) tidak lebih dari 6% di tengah populasi India yang mencapai 1,3 miliar jiwa. Kondisi ini terus menghantui harapan akan terjadinya sosialisasi dan mobilitas sosial dalam berbagai bentuk. Kasta juga menentukan pilihan dalam perkawinan. Dalam sebuah laporan Lok Foundation dan Oxford University pada 2018, masyarakat India perkotaan masih menikah dengan cara yang sama seperti yang dilakukan kakek-nenek mereka yang menganut kastaisme. Angkanya cukup mencengangkan karena hanya 3% yang memilih perkawinan antarkasta. Perkawinan antarkasta (eksogami) dianggap sebagai langkah radikal menuju penghapusan sentimen maupun privilese kasta, tetapi tidak ada bukti ilmiah yang dapat membuktikan bahwa langkah tersebut dengan sendirinya mampu menghancurkan kastaisme dalam masyarakat. Karena kastaisme telah berkelindan dengan gender, pola makan, dan berbagai standar kehidupan lainnya, dibutuhkan seorang Thanos untuk menghancurkan sistem kasta hanya dengan menjentikkan jari!
Bagi sebuah negara seperti India yang sangat heterogen, kastaisme berarti menanggalkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai sekularisme serta persaudaraan. Kasta menciptakan homogenitas dan mendorong apa yang disebut sebagai “kesadaran akan kelompok sendiri” (consciousness of kind). Namun, nama keluarga justru lebih penting daripada nama pemberian. Jika kastaisme hanya dianggap sebagai bentuk “kebebasan berserikat” oleh sebagian paleolibertarian dan “anarko”-kapitalis dalam politik India, apakah mereka mau menjelaskan bagaimana orang-orang dari kasta rendah bisa digantung atau dibunuh secara massa, dibunuh, dan dikucilkan hanya karena minum dari tangki air umum, duduk di kursi, menunggang kuda, memelihara kumis, menyampaikan pendapat, dan sebagainya?
Monster yang Ada!
Belakangan ini, terlihat bahwa umat Hindu dari kasta atas juga telah membawa kastaisme ke luar negeri. Amerika Serikat menjadi salah satu contoh yang jelas. Pada Selasa, 11 Mei 2021, sejumlah pekerja BAPS (Bochasanwasi Akshar Purushottam Swaminarayan Sanstha) mengajukan gugatan di New Jersey. Sebuah laporan di majalah Forbes menyebutkan bahwa gugatan tersebut menuduh lebih dari 200 pekerja direkrut di India dengan informasi palsu, diberikan visa keagamaan, dan sering kali dipaksa bekerja lebih dari 12 jam sehari – sekitar 80 jam atau lebih dalam seminggu – untuk mengerjakan pekerjaan konstruksi batu pada sebuah kuil yang berafiliasi dengan BAPS di Robbinsville, New Jersey. Dilaporkan pula bahwa paspor para pekerja diduga disita tidak lama setelah mereka tiba di Amerika Serikat. Mereka dipaksa tinggal di sebuah kompleks yang sederhana, berpagar, dan diawasi secara ketat, serta dilarang meninggalkan area kuil tanpa pengawasan. Sebagian besar pekerja tersebut berasal dari komunitas Dalit dan menerima upah yang sangat rendah. FBI saat itu sedang menyelidiki kasus tersebut.
Persoalan kastaisme yang sama juga dilaporkan pada Juli 2020, ketika regulator California menggugat CISCO Systems karena membiarkan budaya kerja yang diskriminatif berdasarkan kasta di lingkungan perusahaannya. Ditemukan bahwa dua pekerja Hindu dari kasta atas yang bekerja di organisasi internasional tersebut berlaku tidak adil terhadap seorang rekan kerja yang berasal dari komunitas Dalit. Peristiwa tersebut dinilai melanggar Civil Rights Act of 1964.
Buku Isabel Wilkerson, Caste: The Origins of Our Discontent, memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai sebuah fenomena yang tak kasatmata di Amerika Serikat melalui narasi yang mendalam, riset yang luas, serta kisah orang-orang nyata. Buku tersebut menunjukkan bagaimana Amerika Serikat, baik pada masa kini maupun sepanjang sejarahnya, dibentuk oleh sistem kasta tersembunyi – sebuah hierarki kaku yang menentukan peringkat manusia. Dengan menghubungkan sistem kasta di Amerika Serikat, India, dan Jerman Nazi, Wilkerson menguraikan delapan pilar yang menopang sistem kasta lintas peradaban, termasuk kehendak ilahi, garis keturunan, stigma, dan lainnya. Melalui kisah-kisah yang menggugah tentang orang-orang seperti Martin Luther King Jr., pemain bisbol Satchel Paige, seorang ayah tunggal dan putranya yang masih kecil, dirinya sendiri, serta banyak orang lainnya, ia menunjukkan bagaimana arus bawah kasta yang berbahaya dialami dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendokumentasikan bagaimana Nazi mempelajari sistem rasial di Amerika Serikat untuk merancang pengucilan terhadap orang-orang Yahudi. Ia juga membahas mengapa logika kasta yang kejam membutuhkan adanya lapisan paling bawah yang dapat dijadikan pembanding oleh mereka yang berada di tengah; menulis mengenai dampak kasta yang mengejutkan terhadap kesehatan, seperti depresi dan harapan hidup; serta menjelaskan pengaruh hierarki tersebut terhadap kebudayaan dan politik kita.
Perlunya Metodologi Phule – Ambedkar
Dr. Ambedkar, arsitek konstitusi India, merupakan salah satu tokoh paling gigih memperjuangkan antikasta pada masanya. Ia berpandangan bahwa “kasta bukan sekadar pembagian kerja, tetapi juga pembagian para pekerja.” Ia menulis sejumlah karya penting seperti Caste in India (1917), Annihilation of Caste (1936), Who Were the Untouchables? (1946), dan The Untouchables (1948), yang menurut penulis seharusnya dibaca oleh semua orang sejak tingkat sekolah agar kastaisme dapat dihancurkan dan ditolak. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Ia memimpin gerakan-gerakan revolusioner seperti Mahad Satyagraha (1927) untuk membangun kesadaran kritis di kalangan masyarakat dari kasta rendah. Mahad Satyagraha merupakan gerakan perlawanan tanpa kekerasan yang dilancarkan Dr. Babasaheb Ambedkar. Komunitas Dalit dilarang mengambil air dari tangki air umum. Pada Agustus 1923, Dewan Legislatif Bombay mengesahkan resolusi yang menyatakan bahwa masyarakat dari kelompok yang tertindas harus diperbolehkan menggunakan fasilitas yang dibangun dan dirawat oleh pemerintah. Pada Januari 1924, Mahad, yang saat itu merupakan bagian dari Provinsi Bombay, mengesahkan resolusi serupa di dewan kotanya untuk menerapkan aturan tersebut. Namun, aturan itu gagal diterapkan karena adanya protes dari kelompok Hindu yang menganut kastaisme.
Setelah mengambil air dari tangki umum tersebut, Dr. Ambedkar juga menyampaikan pidato kepada perempuan Dalit selama Satyagraha. Ia meminta mereka meninggalkan seluruh kebiasaan lama yang menjadi penanda status “tak tersentuh” dan mengenakan sari seperti perempuan dari kasta tinggi. Sebelum itu, perempuan Dalit tidak diperbolehkan mengenakan sari secara penuh. Segera setelah pidato Ambedkar di Mahad, para perempuan Dalit dengan sukarela memutuskan untuk mengenakan sari seperti perempuan dari kasta yang lebih tinggi.
Menurut teks-teks Hindu, Dr. Ambedkar sendiri berasal dari kasta “tak tersentuh”. Ia juga dikenal karena membongkar argumen “Mahatma” Gandhi, bapak India modern, terkait dukungannya terhadap sistem kasta atau pembenarannya terhadap pekerjaan membersihkan kotoran manusia secara manual berdasarkan kasta. Ketika Dr. Ambedkar menuntut adanya daerah pemilihan terpisah bagi kaum Dalit (kelompok “tak tersentuh”), Gandhi melakukan fast unto death dan secara tidak langsung menekan Ambedkar melalui aksi tersebut agar kasta rendah tetap berada dalam struktur hierarkis agama Hindu. Lihat Poona Pact (1930).
Jyotirao Phule, seorang pembaharu yang lahir dari kasta rendah, menulis buku Slavery (1873), yang menyoroti asal-usul antropologis kastaisme. Ia mendidik istrinya, Savitribai, dan membuka sekolah bagi anak perempuan serta kelompok “tak tersentuh”. Karena itu, ia dijauhi, diserang, dan dikucilkan. Pendidikan sebagai sarana perubahan pada masa itu diperuntukkan bagi kasta yang memiliki privilese, meskipun sistem tersebut juga menyingkirkan perempuan dari kasta tersebut maupun komunitas Dalit dari akses yang sama.
Singkatnya, kastaisme terus merendahkan kehidupan dan kebebasan kelompok kasta yang tertindas (Dalit/Bahujan). Veil of ignorance yang dikenakan oleh para penindas berdasarkan kasta membuat mereka sangat enggan mengakui privilese yang mereka miliki maupun eksploitasi yang berlangsung atas dasar kasta. Perubahan internal dalam sistem yang dipertahankan oleh struktur kasta sulit dilakukan karena kasta telah mengakar secara sosial dan diwariskan. Yang semakin memperburuk keadaan, pendidikan mengenai kasta hampir tidak ada dalam sistem sekolah. Karena pendidikan mengenai kasta tidak diberikan di sekolah maupun dalam pelatihan korporasi, individu-individu yang menganut kastaisme terus memungkinkan berkembangnya fanatisme dalam ranah meso.
Dr. Ambedkar, seorang polimatik yang lahir dari kasta “tak tersentuh”, telah menyadari sejak awal 1950-an bahwa satu-satunya jalan keluar untuk menghancurkan sistem kasta adalah mencari pembebasan di luar batas-batas Hinduisme. Ia, sebagaimana aktivis antikasta Iyothee Thass, menyimpulkan bahwa Hinduisme tidak mungkin direformasi, bahkan dengan menjadi semacam “cultural suicide bomber”. Karena itu, ia memprakarsai aliran Navayana Buddhism sebagai alternatif terhadap penindasan sosial. “Educate, Organise, Agitate” menjadi visinya yang hingga kini terus menginspirasi berbagai gerakan sosial dalam politik India, meskipun perubahannya berjalan secara bertahap.
Seluruh hasil publikasi didanai sepenuhnya oleh donasi. Jika kalian menyukai karya-karya kami, kalian dapat berkontribusi dengan berdonasi. Temukan petunjuk tentang cara melakukannya di halaman Dukung C4SS: https://c4ss.org/dukung-c4ss.
The Center for a Stateless Society (www.c4ss.org) is a media center working to build awareness of the market anarchist alternative
Source: https://c4ss.org/content/61311
Anyone can join.
Anyone can contribute.
Anyone can become informed about their world.
"United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.
Before It’s News® is a community of individuals who report on what’s going on around them, from all around the world. Anyone can join. Anyone can contribute. Anyone can become informed about their world. "United We Stand" Click Here To Create Your Personal Citizen Journalist Account Today, Be Sure To Invite Your Friends.
LION'S MANE PRODUCT
Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules
Mushrooms are having a moment. One fabulous fungus in particular, lion’s mane, may help improve memory, depression and anxiety symptoms. They are also an excellent source of nutrients that show promise as a therapy for dementia, and other neurodegenerative diseases. If you’re living with anxiety or depression, you may be curious about all the therapy options out there — including the natural ones.Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend has been formulated to utilize the potency of Lion’s mane but also include the benefits of four other Highly Beneficial Mushrooms. Synergistically, they work together to Build your health through improving cognitive function and immunity regardless of your age. Our Nootropic not only improves your Cognitive Function and Activates your Immune System, but it benefits growth of Essential Gut Flora, further enhancing your Vitality.
Our Formula includes: Lion’s Mane Mushrooms which Increase Brain Power through nerve growth, lessen anxiety, reduce depression, and improve concentration. Its an excellent adaptogen, promotes sleep and improves immunity. Shiitake Mushrooms which Fight cancer cells and infectious disease, boost the immune system, promotes brain function, and serves as a source of B vitamins. Maitake Mushrooms which regulate blood sugar levels of diabetics, reduce hypertension and boosts the immune system. Reishi Mushrooms which Fight inflammation, liver disease, fatigue, tumor growth and cancer. They Improve skin disorders and soothes digestive problems, stomach ulcers and leaky gut syndrome. Chaga Mushrooms which have anti-aging effects, boost immune function, improve stamina and athletic performance, even act as a natural aphrodisiac, fighting diabetes and improving liver function. Try Our Lion’s Mane WHOLE MIND Nootropic Blend 60 Capsules Today. Be 100% Satisfied or Receive a Full Money Back Guarantee. Order Yours Today by Following This Link.

